Selasa, 05 Maret 2013

Syarifuddin Umar

. Selasa, 05 Maret 2013
0 komentar

Mantan hakim Kepailitan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Syarifuddin Umar, mengadukan kasus dugaan hilangnya sejumlah barang pribadinya ketika tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di rumah dinasnya kepada Komisi III DPR.

Aduan disampaikan pengacaranya, Maju Posko Simbolon, di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (5/3/2013).

Maju menjelaskan, ketika penggeledahan 1 Juni 2011, beberapa barang yang berada di kamar pribadi kliennya hilang. Barang itu, kata dia, yakni dua cincin emas, dua kaca mata, serta satu lambang Cakra yang terbuat dari emas.

Adapun barang yang hilang di ruang tamu, lanjut dia, yakni satu baju kaus baru untuk bermain golf dan satu sarung tangan golf. Ada pula barang yang hilang dari dalam dompet yang disita seperti kartu Perbakin, kartu Askes, kartu kredit BNI dan BRI, dan kartu lainnya.

"Kami tidak menuduh KPK. Tapi kami sampaikan fakta bahwa klien kami alami kehilangan barang saat penggerebekan," kata Maju kepada delapan politisi Komisi III DPR yang hadir.

Selain itu, Maju kembali mempermasalahkan barang bukti ponsel dan laptop yang rusak ketika dikembalikan KPK. Permasalahan itu sudah digugat secara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Hakim PN Jaksel menyatakan KPK melanggar hukum dan harus membayar kerugian imaterial sebesar Rp 100 juta kepada Syarifuddin. Perkara itu masih dalam proses di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

"Apa yang kami sampaikan upaya untuk memperjuangkan nasib klien. Kami harapkan dengan pengaduan ini hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Didampingi penasihat hukum pun mengalami permasalahan seperti ini, bagaimana yang tidak didampingi penasihat hukum," kata dia.

Ketua Komisi III DPR yang memimpin rapat dengar pendapat umum I Gede Pasek Suardika menyarankan pihak Syarifuddin untuk melaporkan masalah barang yang hilang kepada Kepolisian. Adapun mengenai barang yang rusak, menurut Pasek, sebaiknya mengikuti proses hukum yang ada.

"Kalau barang yang hilang, sebaiknya dilaporkan ke Kepolisian karena itu ranah pidana. Dengan laporan itu bisa dilacak pelan-pelan," kata Pasek.

Seperti diberitakan, Syarifuddin divonis penjara selama 4 tahun hingga tingkat kasasi. Dia dianggap terbukti menerima suap sebanyak Rp 250 juta dari kurator Puguh Wirawan terkait kepengurusan harta pailit PT Sky Camping Indonesia. Saat ini, Syarifuddin mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung.

Baca juga: Iconia PC tablet dengan Windows 8 by Kanghari.

Klik disini untuk melanjutkan »»